Lompat ke isi utama

“Kami sudah mulai merancang video rilis yang akan diajarkan Instruktur pada tahun 2022.”

by Sarah Shortt

masterclass-filming
masterclass-filming

SARAH SHORTT:

Hai Ross! Sebagai pengawas pembuatan film Masterclass – Boleh ceritakan peran anda?

 

ROSS PEEBLES:

Tentu boleh – Tugas utama saya adalah memproduksi film Masterclass – video tuntunan bagi Instruktur, dibuat setiap triwulan untuk masing-masing program. Intinya, saya mengatur proses shooting dan logistiknya, termasuk elemen kreatif seperti pemilihan latar, tempat, pencahayaan, suara, sinematografi, kru kamera… Semua elemen yang anda lihat pada sebuah video.

Saya bekerja dalam tim Group Fitness pada Less Mills Internasional, tim saya terdiri dari Produser Lini, Manajer Produksi, dan Asisten Produksi.

 

Anda menghasilkan Masterclass setiap triwulan, jadi anda bekerja tiga bulan sekali?

Ya, tetapi setiap program memiliki waktu rilis yang saling beririsan, maka kami harus bekerja secara kontinyu, terus menerus, bukan hanya tiap tiga bulan.

Tiap 13 minggu ada rilis baru. Misalnya saat ini kami menyelesaikan video yang akan di rilis Instruktur di bulan November. Bila mulai produksi lagi setelahnya, maka kami hanya memiliki waktu tiga setengah minggu untuk produksi rilis berikutnya (Januari).

Karena itu kami mulai shooting rilis berikutnya dengan segera, karena pasti butuh lebih dari 3 minggu, terutama karena waktu tiap shooting beririsan satu dengan lainnya. Contohnya saat ini kami sedang merencanakan produksi rilis Januari 2021, yang sepertinya masih lama, tapi tidak juga, karena harus mulai shootingnya pada Oktober tahun depan – perencanaan setahun kedepan – karena itu saat ini pun kami sudah membicarakan rilis Januari 2022, berkesan menakutkan, tapi sebenarnya 2 tahun itu tidak lama. Apalagi karena film Masterclass adalah sebuah peluncuran rilis yang berskala Internasional, anda dituntut untuk perencanaan yang lebih awal agar tetap unggul.

 

Jadi seperti apakah siklus 13 minggu itu?

Sebagaimana jadwal produksi siaran televisi, ada tiga aspek utama, yaitu pra-produksi (perencanaan dan persiapan), produksi (pengambilan gambar), dan pasca-produksi (menyunting gambar dan audio), untuk dapat menghasilkan film. Siklus produksi inilah yang kita laksanakan selama waktu tersebut. 

 

Apa peranan anda saat hari pengambilan gambar?

Kebanyakan pekerjan saya harus selesai sebelum pengambilan gambar dimulai, seperti mempersiapkan orang-orang kru teknis, kebutuhan properti, dan detail lainnya, bahkan untuk memastikan semua orang telah hadir!

Selama pengambilan gambar, saya harus memastikannya telah sesuai dengan rencana, musik yang diputar sudah tepat dan terdengar jelas… Biasanya saya akan duduk di sebelah Jackie (Mills) atau Kylie (Gates) untuk mengevaluasi rekaman yang sedang dibuat, sehingga hasilnya bukan hanya baik dari sisi kreatif (penerangan, musik, properti latar), tapi juga benar secara sisi teknis (koreografi dan teknik performer).

filming

 

Setelah pengambilan gambar, apa yang anda lakukan dalam proses pasca produksi?

Saya mengawasi keseluruhan proses penyuntingan, hampir sepanjang waktu – sebenarnya Produser tidak harus melakukannya, Sutradara lah yang biasanya menjaga proses ini – tapi beginilah proses tim kami. Saya akan menyatukan suntingan dan masukan dari seluruh pihak pengarah (Direktur Kreatif, Direktur Program, Konsultan Teknis) sehingga hasilnya disetujui oleh semua pemangku kepentingan.  

 

Sebelum bergabung dengan Les Mills, apa latar belakang anda?

Saat ini saya sudah bergabung dengan Les Mills selama 3 tahun. Sebelumnya, saya bekerja paruh waktu di perusahaan produksi (production house) sebagai Produser dan Sutradara video untuk serial televisi.

Keahlian yang saya berikan untuk produksi film Les Mills Masterclass sebenarnya sama seperti produksi program hiburan di televisi, yaitu pengambilan gambar multi-kamera untuk sebuah Game show atau Acara Kuis Televisi – namun dengan konsep yang berbeda karena acaranya bukan Kuis, melainkan Latihan dengan Barbell. Hal yang berbeda namun butuh keahlian yang sama.  

 

Phillip Mills sering mengajukan istilah “exertainment”. Dengan latar belakang dari produksi acara hiburan televisi, bagaimana anda mewujudkan konsep tersebut?

Saya selalu mencoba mengaplikasikan konsep produksi yang anda lihat di televisi untuk menggarap video program Les Mills. Saya selalu berusaha meningkatkan kualitas visual, teknikal, dan kreatifitas dalam film Masterclass. Setiap produksi memberi hasil setingkat lebih baik untuk memajukan kualitas video secara berkesinambungan.

 

Peningkatan Kualitas yang kontinyu ini – apakah selalu dilakukan setiap triwulan? Apakah selalu rutin harus mencari cara baru untuk proses produksi berikut, atau dilakukan secara alami sesuai dengan kebutuhan aktual?

Kombinasi dari keduanya, peningkatan mutu secara alami, maupun memaksa diri untuk selalu menyempurnakan proses kerja – untuk menghindari kesalahan ataupun mencoba sudut pandang yang baru atau mencoba cara pengambilan gambar yang berbeda.

Pastinya selalu ada sesi diskusi kreatif dengan Jackie, Kylie, dan Les (Mills Junior) pada setiap proses kerja. Kami bukan hanya membicarakan keseluruhan proses produksi film Masterclass selama tiga minggu, namun juga memikirkan apa saja peningkatan mutu yang dapat dilakukan dalam waktu tiga, enam, hingga dua belas bulan ke depan? Kami selalu berbicara dalam kerangka pikir yang besar dan luas. Memang agak sulit untuk memberi jadwal pada proses kreatif, karena inspirasi bisa datang sewaktu-waktu.

 

Saya mencoba untuk menerapkan aspek produksi seperti pada televisi untuk program-program Les Mills […] Selalu meningkatkan kualitas visual, teknikal, dan kreatifitas dalam film Masterclass, setingkat lebih baik dan selangkah lebih maju setiap kali produksi, untuk peningkatan mutu yang berkesinambungan. 

 

 

Berapakali shooting yang biasanya anda lakukan untuk film Masterclass? Pernahkah anda harus mengulang pengambilan gambar?

Banyak hal yang menjadi satu kesatuan dalam Masterclass, sehingga ada banyak unsur yang tidak dapat diubah. Pada dasarnya, kita seperti mengambil gambar siaran langsung dari sebuah kelas, jadi tidak sembarangan dapat dihentikan, biasanya pengambilan dilakukan sekali jalan tanpa berhenti, kecuali ada kesalahan teknis atau koreografi. Hal ini berbeda dari acara televisi yang bisa diulang berkali-kali dan menggunakan kamera yang berpindah-pindah. Tidak ada pengulangan pengambilan gambar karena film Masterclass memang ditujukan sebagai alat instruksional dan harus dilakukan dengan sempurna.

Hal ini serupa dengan produksi film internasional atau acara besar dengan banyak peserta, karena walaupun secara teori, peserta menginginkan ada sedikit waktu jeda dibalik layar, tapi mereka sebenarnya datang untuk mengikuti kelas fitness. Bila pengambilan gambar berhenti terlalu lama, kita bisa kehilangan momentum, energi, dan performa yang telah terbangun sebelumnya. Seperti sebuah konser: P!nk tidak akan berhenti di tengah konser selama 10 menit lalu minta waktu tunda lagi 7 menit untuk memperbaiki sistem lighting. Sama dengan kelas Masterclass, kontinuitas itulah hal mendasar yang tidak dapat dirubah.

 

Kelas Masterclass apa yang paling menantang untuk diproduksi, dan mengapa?

Yang pasti adalah tantangan dari pengambilan gambar diluar negeri, dimana banyak orang-orang yang berpartisipasi dalam prosesnya belum biasa bekerjasama dengan kita, dan tidak tahu tentang Les Mills. Banyak pengetahuan unik yang akan didapatkan selama shooting Masterclass; kami memiliki kru inti di New Zealand yang selalu dapat diandalkan karena sudah berpengalaman dan paham akan ekspektasi serta kebutuhan yang diperlukan dalam proses produksi film Masterclass. Karena itu saat diluar negeri, anda mendapat tantangan untuk mengoptimalkan proses kerjasama dari orang-orang yang belum saling kenal, tidak paham tentang produknya, musik, suasana kelas, presenter, bahkan tidak mengerti bahasa yang digunakan, seperti misalnya di Shanghai, akan menjadi tantangan tersendiri.  

 

Bagaimana dengan program – ada yang lebih mudah atau sulit untuk di rekam? Biasanya dalam proses produksi, ada kategori pengambilan gambar dengan tipe “ikonik”, “mind body” atau “atletik”.

Setiap Program memiliki keunikan masing-masing, dengan tantangan tersendiri pada tiap tipe, namun saya berusaha memahami tiap keunikan dan tantangan tersebut sehingga saya dapat mencegah masalah atau hambatan yang memang pasti ada dalam setiap program.

Sebelumnya, produksi Masterclass dilakukan dengan satu pendekatan yang sama untuk seluruh program, namun bila diperhatikan, RPM tentu berbeda dengan BODYATTACK, walaupun keduanya berada dalam kategori program “ikonik”. Persiapan Latar dan Pencahayaan yang diperlukan pasti berbeda. Namun misalkan keterbatasan tempat mengharuskan pengambilan gambar menggunakan ruang yang sama, kru harus mengatur level cahaya dan latar yang optimal untuk digunakan pada kedua jenis latihan tersebut. Hal yang sulit bila sebelumnya tidak mengetahui kebutuhan unik dari masing-masing program. Jadi bukan hanya tinggal mengarahkan lensa pada presenter dan berharap yang terbaik.

 

Mengamati rilis sebelum direkam, siapa yang melakukan observasi, anda atau Sutradara?

Saat merekam sebuah kelas, saya harus sudah familiar dengan musiknya dan biasanya saya hadir mengamati saat gladi resik, ataupun latihan di kelas, tetapi saya menyadari bahwa bila anda melihat kelas pada hari Rabu dan merekamnya di hari Sabtu, akan ada cukup banyak hal yang berubah. Jadi saya memang melakukan observasi untuk melihat sejauh apa kesulitan yang mungkin dihadapi saat merekam, namun tidak terlalu detail, karena dinamika kelas pasti berubah saat rekaman nanti, misalnya siapa presenter nya, track mana yang dibawakan oleh masing-masing, sisi panggung mereka, dan sebagainya.

 

Kenapa kita tidak lagi rekaman di Studio 1 Gym? 

Hal utama adalah karena banyak proses konstruksi yang sedang berlangsung di Gym. Sedang ada pembuatan Lapangan Parkir baru, dan dalam 12 bulan terakhir, banyak renovasi di dalam untuk membangun studio-studio baru. Menggunakan area yang sedang dibangun sebagai studio rekaman televisi tentunya adalah sebuah mimpi buruk untuk kesehatan dan keselamatan kerja.

Selain itu ada masukan dari banyak anggota gym yang ingin menggunakan klub mereka sepenuhnya, tanpa tim kami masuk setiap tiga bulan dan mengganggu fasilitas mereka. Studio 1 sebenarnya juga tidak ideal. Tidak ada pengatur suhu udara (AC) sehingga terasa sangat panas atau sangat dingin tergantung musimnya. Plafon ruangan pun rendah, hingga membatasi sudut kamera. Belum lagi ketiadaan elevator membuat seluruh peralatan harus diangkut menggunakan tangga – menggotong 40 sepeda statis, lampu, layar proyektor setiap 3 bulan sekali tentu tidak menyenangkan!

 

Jadi bagaimana akhirnya diputuskan lokasi seperti Wanaka dan Sydney?

Keputusan lokasi rekaman film di luar negeri bergantung pada tim internasional kami. Jadi kemungkinan mereka akan merekam sebuah acara atau sedang ada siaran langsung yang bisa kami ikuti.

Dengan memutuskan rekaman di Australia, Jackie ingin untuk membawa pengalaman tersebut pada Instruktur dari Australia, menjadi ajang unjuk kebolehan tim lokal mereka dan memberi Instruktur Australia kesempatan mengikuti Masterclass di negara mereka sendiri. Keputusan ini adalah ajang merayakan dan berterimakasih atas peran serta Instruktur di Australia.

Mengenai lokasi di Australia, pilihan muncul dari pembicaraan dengan Les Mills Asia Pacific saat ditanya dimanakah basis terbesar Instruktur, dimana lokasi dengan jumlah kehadiran tertinggi, lokasi terbaik dan strategis sehingga relatif terjangkau bagi semua Instruktur… Dan tentu saja kapasitas lokasi menjadi pertimbangan pula. Kapasitas 5000 atau 1000 orang jadi tonggak pengambilan keputusan. Sydney dan Mebourne menjadi alternatif, dan akhirnya Sydney terpilih karena memenuhi syarat yang telah diajukan.

Untuk Lokasi rekaman di Wanaka, idenya muncul dari perayaan 50 tahun Les Mills, dan fakta bahwa kita belum sepenuhnya bercerita tentang New Zealand dari pandangan Les Mills, jadi kenapa tidak sekalian melaksanakan acara di tempat yang khas New Zealand, yang menjadi basis dari perusahaan fitness hebat di belahan bumi selatan? Kita ingin menunjukkan asal-usul Les Mills. Rekaman dalam ruangan bisa dilakukan dimana saja, tapi begitu ada pemandangan Hutan Marlon diatas perbukitan New Zealand, seluruhnya terasa unik dan berbeda. 

Saya telah menjadi bagian Les Mills selama tiga tahun dan mandat yang diberikan adalah selalu mengembangkan dan meningkatkan kualitas produk. Bila ingin peningkatan setiap triwulan – dan triwulan terdengar cukup, namun sebenarnya sangat cepat berlalu – salah satu cara adalah dengan melakukan hal yang unik dan berbeda setiap kalinya. Sehubungan dengan cakupan rekaman Internasional, maka lokasi berbeda akan memberi energi dan suasana yang berbeda, misalnya antara rekaman di Shanghai dengan di Auckland. Hal ini yang menjadi pertimbangan untuk menjadikan setiap rekaman Masterclass internasional lebih dari sekedar hal yang biasa.   

 

Kadangkala ada masukan bahwa Instruktur tidak dapat melihat jelas sebuah gerakan – bagaimana anda menjamin bahwa setiap film Masterclass tetap jadi alat belajar yang efektif?

Sebenarnya sangat sulit untuk mendapatkan rekaman yang sempurna seriap kali, saya beri sebuah contoh suasana rekaman sebuah acara besar:

Peserta akan mempengaruhi rekaman gerak presenter dari kepala hingga ke kaki, bila posisi panggung presenter terlalu tinggi, maka tidak ada koneksi antara peserta dan presenter, dan sebaliknya bila panggung terlalu rendah, maka peserta terdepan akan menghalangi pandangan kita kepada presenter. 

Lalu ada pula aturan khusus seperti di New Zealand dimana anda tidak boleh mendirikan panggung lebih dari semeter tingginya tanpa ada pegangan/ railing di sekeliling, hal ini demi keselamatan. Aturan ini membatasi hingga seluruh panggung kita biasanya hanya semeter tingginya. Saat kita merekam di Studio 1 Gym, Ben Main hampir dapat menyentuh langit-langit ruangan dari atas panggung, dan saat Mark Nu’u Steele mengangkat tangannya diatas platform Step, ia dapat menyentuh langit-langit.  

Memang bukan keharusan setiap saat seluruh reps dapat dilihat, maka paling tidak kami akan berusaha merekam penuh dari kepala hinga kaki, minimal dua hingga empat gerakan saat presenter melakukannya pertama kali. Bilamana kami tidak melakukannya, biasanya gerakan itu telah ada dan direkam jelas pada track sebelumnya di BODYJAM™ atau di SH’BAM™ dimana biasanya ada gerakan berulang yang telah anda pelajari 10 menit sebelumnya. Atau terkadang kami berusaha menutupi kesalahan gerak dari peserta atau presenter dengan melompat ke adegan lain.   

 

Kami sering juga mendengar keluhan bahwa film Masterclass direkam di Wanaka sebenarnya karena lebih mengutamakan permintaan dari Virtual dan Les Mills On Demand – bukan untuk para Instruktur.

Idealnya saya akan membawa kualitas siaran televisi pada fitness dan memberikan sesuatu untuk ditunggu kehadirannya tiap triwulan oleh para Instruktur. “Apa yang akan diberikan kali ini?”,”Hal baru apa yang akan muncul?” Memenuhi permintaan semua orang sangatlah sulit, banyak sekali orang dengan banyak peran dan banyak permintaan. Memang utamanya kami memproduksi alat belajar bagi Instruktur, namun tentunya Les Mills On Demand juga punya permintaan tertentu. Belum lagi peserta yang telah membayar untuk pengalaman menarik mengikuti kelas Masterclass. Jadi untuk memenuhi berbagai permintaan tersebut dengan baik, dan dapat memenuhi harapan semua pihak – satu solusi bagi semua masalah – adalah sangat sulit. Tapi tujuan utama saya tentunya merekam film instruksional untuk pembelajaran bagi para Instruktur. 

Kenyataannya, anda dapat merekam BODYJAM di dalam salah satu studio kami di Kantor Les Mills, - anda dapat menghadirkan Presenter secara utuh tanpa tertutup peserta dan Gandalf dapat melakukan seluruh kelas disini – Tapi apa benar itu yang diinginkan Instruktur? Apakah hal itu yang menjadi standar kualitas yang diinginkan penonton? Tujuan saya adalah membawa kualitas siaran televisi pada produk film Masterclasss dan menciptakan sesuatu tontonan yang dapat dinikmati dan juga dipelajari oleh para Instruktur.